Sabtu, 26 Januari 2013

MENYUSUN RANSUM SAPI POTONG


      I.   TUJUAN  PEMBELAJARAN ;
  • TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM (TPU);
§   Membekali Mahasiswa dalam memahami pengertian ransum seimbang dan tata cara melakukan penyusunan ransum rasional pada sapi potong
  • TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS (TPK)’
o       Setelah selesai mempelajari materi ini mahasiswa diharapkan mampu 
menjelaskan dengan baik ;
  • Pengertian  ransum seimbang
  • Pengertian pakan dan zat nutrisi
  • Tahapan  penyusunan ransum
  • Menyusun ransum sapi dara
  • Menyusun ransum sapi induk,  3 – 4 bulan pertama setelah melahirkan.
  • Menyusun ransum sapi jantan
  • Strategi pemberian pakan harian pada sapi

II.    POKOK BAHASAN dan  SUB POKOK BAHASAN
  • Pengertian ransum seimbang pada sapi
  • Pengertian pakan dan nutrisi pakan
  • Tahapan penyusunan ransum seimbang
  • Menyusun ransum sapi dara
  • Menyusun ransum  induk umur 3 – 4 bulan pertama setelah melahirkan
  • Menyusun ransum untuk sapi jantan
  • Strategi pemberian pakan pada sapi

III. METODE PEMBELAJARAN
·         Ceramah
·         Curah pendapat
·         Diskusi
·         Simulasi
·         Ungkapan pengalaman
·         Tanya Jawab
·         Praktek dan Observasi Lapangan

iV.  ALAT  DAN BAHAN
·      Alat tulis;
.   LCD
·      Komputer
·      Disket, CD, Flashdisk
·      Kertas A4
·      Tabel kebutuhan zat nutrisi ternak
·      Tabel komposisi nutrisi bahan pakan
·      Bahan pakan (dedak halus, jagung giling, jerami, bungkil kelapa,  gaplek,   
    tetes, rumput lapangan, rumput raja, garam dapur, tepung tulang dan
    kapur)
·      Alat pengaduk (sekop)
·      Timbangan


V.  INFORMASI POKOK
PENGERTIAN RANSUM SEIMBANG.
Ransum seimbang adalah ransum yang diberikan selama 24 jam yang mengandung semua zat nutrisi dalam arti jumlah dan macam nilai nutrisinya dalam perbandingan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi sesuai dengan tujuan pemeliharaan ternak.
·         Ransum yang seimbang sesuai dengan kebutuhan ternak merupakan syarat mutlak dihasilkannya produktivitas yang optimal, baik pada ternak masa pertumbuhan, laktasi maupun pada usaha penggemukan, tentunya dengan selalu memperhatikan harga pakan yang ekonomis, serta pakan tersedia secara kontinyu.
·         Dalam usaha peternakan, pakan merupakan faktor yang sangat menentukan . Pakan ternak ruminansia seperti sapi, kambing, domba dan kerbau sebagian besar berupa hijauan. Bagi para peternak yang lebih maju umumnya juga telah memberi pakan konsentrat terutama untuk penggemukan (ternak potong) dan induk laktasi (ternak perah).
·         Kebutuhan zat – zat nutrisi bagi ternak tergantung pada berat, fase pertumbuhan atau reproduksi dan laju pertumbuhan atau pertambahan bobot badan harian yang dapat dicapai oleh seekor ternak. Semua zat pakan dibutuhkan dalam proporsi yang seimbang satu sama lain. Oleh sebab itu tidak ekonomis apabila ternak diberikan zat pakan dalam jumlah yang berlebihan di banding zat pakan yang lainnya.
·         Setelah mengetahui hal – hal tersebut diatas maka barulah ditentukan jenis bahan - bahan pakan yang tersedia atau yang dapat disediakan dan komposisi zat – zat gizi dari bahan - bahan pakan yang tersedia itu.
·         Pakan atau Ransum, merupakan campuran dari dua atau lebih bahan pakan yang diberikan untuk seekor ternak selama sehari semalam. Ransum harus dapat memenuhi kebutuhan zat nutrisi yang diperlukan ternak untuk berbagai fungsi tubuhnya, yaitu untuk hidup pokok, produksi maupun reproduksi. Pada umumnya ransum, untuk ternak ruminansia terdiri dari pakan hijauan atau pakan berserat (roughages) dan pakan penguat atau konsentrat.
·         Pakan pokok (basal) dapat berupa rumput alam, rumput budidaya, leguminosa, perdu, pohon - pohonan serta imbah pertanian (jerami padi, daun jerami jagung, pucuk tebu, jerami kacang tanah) dan tanaman pertanian lainnya.. Sedangkan pakan konsentrat antara lain berupa biji - bijian, bungkil, umbi – umbian, bahan pakan asal ternak, dan limbah industri seperti bekatul dan tepung ikan.. Untuk  melengkapi kebutuhan ternak biasanya diberikan pula bahan pakan tambahan (feed additive) berupa vitamin, mineral, antibiotik, hormon dan lainnya.
·         Sapi – sapi untuk tujuan penggemukan, dengan pemberian pakan hijauan saja tanpa adanya penambahan pakan lain berupa konsentrat tidak mungkin akan mencapai bobot badan yang diharapkan. Penambahan bobot badan harian yang maksimal akan dapat dicapai manakala ransum yang diberikan terdiri dari hijauan berupa campuran rumput - rumputan dan daun leguminosa dengan tambahan konsentrat serta bila diperlukan adanya tambahan feed additive.(vitamin, mineral, hormon, antibiotik dan lainnya.
·         Dalam memilih bahan pakan ternak, maka perlu memperhatikan nilai gizi atau nilai nutrisi bahan pakan tersebut. Nilai gizi adalah zat – zat kimia yang terdapat dalam pakan yang berguna untuk kelangsungan hidup ternak, meliputi protein, energi, mineral, vitamin dan air. Nutirisi tersebut dibutuhkan oleh ternak untuk menjaga metabolisme basal dan produksi.
·         Diantara zat nutrisi tersebut maka energi dan protein dibutuhkan dalam kuantitas atau jumlah yang besar dan menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan ransum
o   TAHAPAN PENYUSUNAN RANSUM SEIMBANG
·         Untuk menyusun ransum seimbang yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi sesuai dengan tujuan pemeliharaan dan status faali (kebutuhan pokok hidup) sapi potong diperlukan tahapan sebagai berikut :
§  Menyiapkan tabel kebutuhan zat nutrisi ternak
·         Indonesia  belum memiliki standar kebutuhan gizi ternak, sehingga formulasi ransum selama ini menggunakan salah satu standar yang telah ada. Namun demikian bahwa penggunaan standar kebutuhan gizi yang tersedia tersebut dalam penggunaannya belum tentu cocok dengan lokasi Indonesia dan masih memerlukan kajian lebih lanjut. Akan tetapi penggunaan standar tersebut hanyalah sebagai dasar perkiraan saja dan tidak merupakan ketentuan mutlak Salah satu contoh standar kebutuhan gizi yang dapat dipakai adalah yang diterbitkan oleh “National Academics of Science” yang disebut dengan National Research Council (NRC) atau Nutient Requirement of Ruminants in Developing Countries, adalah tabel yang banyak diadopsi.
·         Pakan harus mampu menyediakan hampir semua nutrisi yang diperlukan oleh tubuh ternak dalam suatu perbandingan yang serasi sesuai dengan status faali, pakan tidak perlu berlebihan bahkan harus efisien sehingga dapat memberikan keuntungan. Terdapat empat hal penting yang harus diperhatikan dalam menentukan kebutuhan zat nutrisi pada sapi potong, yaitu; jenis kelamin (jantan atau betina), berat badan, taraf pertumbuhan/status fisiologis (pedet, sapihan, bunting dan lain-lain) serta tingkat produksi.
§  Menyiapkan tabel komposisi/kandungan nutrisi bahan pakan.
·         Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa pengetahuan tentang kebutuhan nutrisi untuk ternak tidak akan banyak berguna, jika tidak diikuti oleh ketersediaan informasi  yang akurat tentang nilai gizi atau nilai nutrisi bahan pakan yang akan digunakan dalam menyusun ransum. Oleh sebab itu harus ada usaha untuk membangun tabel nilai nutrisi bahan pakan. Tabel bahan pakan berisikan informasi tentang kandungan bahan kering (BK), bahan organik dan substansi kimia pakan  seperti  nilai Energi (TDN) pakan, nilai Protein Kasar (PK) pakan, Mineral dan Air. Informasi yang terpenting adalah nilai energi dan protein  pakan, oleh karena dibutuhkan oleh ternak dalam jumlah terbesar dan sistim evaluasi pakan  dibangun berdasarkan kedua nutisi tersebut.
·         Beberapa hasil penelitian kandungan zat gizi bahan pakan di Indonesia, dapat dipergunakan sebagai pegangan. Apabila belum memiliki tabel tersebut maka dapat menggunakan hasil penelitian  Hari Hartadi, Tillman dan Sudomo, (UGM, 1978).
·         Selain rumput lapangan dan atau leguminosa atau kacang- kacangan, sumber pakan yang cukup potensial adalah hasil sisa (limbah) pertanian tanaman pangan. Optimalisasi penggunaan bahan pakan asal limbah pertanian, perkebunan maupun agroindustri diharapkan selain menurunkan biaya ransum juga mampu menghasilkan produktivitas secara optimal. Suplementasi dengan multinutrien perlu dilakukan untuk membentuk keseimbangan kondisi rumen dan memenuhi kebutuhan zat nutrient. Keseimbangan kondisi rumen dibutuhkan untuk meningkatkan daya cerna sehingga dapat meningkatkan efisiensi pakan.
Menyusun Formula Ransum Seimbang
·         Terdapat tiga macam metode yang biasa digunakan dalam penyusunan formula ransum pada sapi potong yaitu :
·                              Pearson square method,
·                              Least cost formulation dan
·                              Trial and error.
·         Saat ini telah pula tersedia beberapa soft ware atau program yang dapat di pergunakan untuk penyusunan formula ransum seperti MIXID atau aplikasi EXCEL. Untuk metode trial and error dapat dilakukan peternak dengan cara mengubah - ubah komposisi (persentase) bahan pakan dalam ransum dengan mempertimbangkan kriteria rasional, ekonomis dan aplikatif dan ketersediaan bahan pakan. Cara ini memerlukan kesabaran dan waktu yang relatif lama.
·         Pencampuran bahan pakan, terutama dalam membuat kosentrat dapat dilakukan di atas lantai dengan cara mengaduk aduk beberapa bahan pakan menggunakan alat pengaduk (sekop) dimulai dengan bahan pakan yang jumlahnya paling sedikit, sedang dan terbanyak.

MENYUSUN RANSUM SAPI DARA.
Untuk penyusunan ransum seimbang pada sapi dara dengan bobot badan (BB) 300 kg dan pertambahan bobot badan harian (PBBH) 500 gr/hari.
Bahan pakan yang tersedia dalam penyusunan ransum seimbang sapi dara adalah jerami padi, dedak halus kampung dan bungkil kelapa. Konsumsi jerami padi dibatasi 1,33 % dari bobot badan sapi.
Langkah – langkah dalam penyusunan ransum sapi dara sebagai berikut :
Kebutuhan zat nutrisi untuk sapi dara dengan bobot (BB) 300 kg dengan kenaikan bobot badan harian (PBBH) 500 gram/hari di tampilkan seperti pada tabel 1,
Tabel 1. Kebutuhan zat nutrient sapi dara BB 300 kg, PBBH 500 gram/hari
Berat badan
PBBH/kg
BK/kg
TDN/kg
PK/gr
Ca/gr
P/gr
300
0,5
7,1
3,8
423
14
1

Setelah kebutuhan zat nutrisi diketahui, maka perlu di cari komposisi zat nutrient bahan pakan jerami padi, dedak halus kampung dan bungkil kelapa, seperti di tampilkan pada tabel 2.
Tabel 2; Kandungan zat nutrisi bahan pakan
Bahan
BK (%)
TDN(%)
PK(%)
Ca
P
Jerami padi
60
2,40
59,0
0,21
0,08
Dedak halus
86
6,30
60,5
0,70
1,50
Bungkil kelapa
86
19,90
78,3
0,30
0,67

Konsumsi bahan kering (BK) jerami padi = 1,33 % x 300 = 3,99 kg atau dibulatkan 4 kg. Kemudian di hitung zat – zat makanan yang dapat disediakan oleh 4 kg jerami padi dan dibandingkan dengan kebutuhan pada tabel tabel 3
Tabel 3 ; Perbandingan kebutuhan zat gizi dengan yang tersedia oleh jerami padi.

Uraian

BK (kg)

TDN (kg)

PK (gr)

Ca

P
Kebutuhan zat nutrien
7,1
3,8
423,0
14,0
1,0

Zat nutrient  pd jerami padi

4,0

2,4

59,0

0,21

0,08

Kekurangan

3,1

1,4

364,0

13,79

0,02

Kekurangan bahan kering (BK) sebesar 3,1  kg dan protein kasar (PK) 364,0 gram tersebut harus dipenuhi oleh campuran dedak halus kampung dan bungkil kelapa, yang mengandung PK sebesar masing – masing = (327/3100) x 100 % =  10,9 %
Menghitung proporsi dedak halus kampung dan bungkil kelapa dengan menggunakan bujur sangkar (Pearson square methods).
PK (%)                                      Bagian           % - se
Dedak halus         6,3                             9,0     (9/13,6x100%= 66,18 %
                                              10,9
Bungkil kelapa     19,9                            4,6      (4,6/13,6x100%= 33,82%
Jumlah                 13,6                           13,6
Jadi :   BK ;Jumlah dedak halus     =  (66,18 %) x 3,1 kg = 2,06 kg
o   Jumlah bungkil kelapa =  (33,82 %) x 3,1 kg = 1,06 kg
menghitung zat – zat makanan yang dapat disediakan oleh dedak halus kampung. Bungkil kelapa dan jerami padi. Kemudian hasil perhitungan di masukan dalam tabel dan dibandingkan dengan kebutuhan zat nutrisi seperti pada tabel 4
Tabel 4.: Perbandingan kebutuhan zat nutrient dengan yang tersedia oleh bahan pakan ;
Uraian
BK(kg)
TDN(kg)
PK(kg)
Ca
P
Jerami padi
4,00
2,40
96
8
3
Dedak halus kampung
2,06
1,25
130
14
31
Bungkil kepala
1,06
0,82
209
3
7
Jumlah
7,12
4,47
435
25
41
Kebutuhan
7,10
3,80
423
14
1

·         Jadi  ransum telah seimbang dalam hal  protein dan energi/perbandingan Ca : P yang dideal 1 : 1. untuk mencapai perbandingan tersebut, maka di dalam ransum harus ditambahkan Calsium Carbonat (CaCO3). Sumber CaCO3 mengandung Ca sebesar 36 %. Untuk mencapai kesimbangan tersebut, maka didalam ransum harus ditambahkan kapur sebanyak (41 – 25)/0,36 = 44,44 gram.
·         Menghitung susunan ransum dalam bentuk segar adalah sebagai berikut:
·         Jerami padi = (100/59) x 4,00 kg = 6,8 kg.
·         Dedak halus kampung = (100/60,5) x 2,06 kg = 3,40 kg
·         Bungkil kelapa = (100/78,3) x 1,06 kg = 1,35 kg
·          Caco3 = 44,44 gram

MENYUSUN RANSUM SAPI INDUK UMUR 3 – 4 BULAN PERTAMA SETELAH MELAHIRKAN.
·         Induk yang sedang laktasi membutuhkan zat – zat makan yang lebih tinggi  dari induk yang tidak laktasi. Dalam berat badan dan kondisi yang sama, seperti tertera dalam tabel 5, berikut ini ,
·         Tabel 5 : Kebutuhan zat nutrient induk 3 – 4 bulan pertama setelah melahirkn
Uraian Kebutuhan zat nutrient
BK(kg)
PK(gr)
TDN(kg)
Ca/gr
P/gr
Induk laktasi dengan BB 350 kg
    8,1
505
4,5
24
24

Konsumsi BK dari Pennisetum Purpureum (rumput gajah) adalah 2 % BB
Langkah 1 :Mencari kandungan zat – zat makanan dari rumput gajah dan bungkil kelapa seperti pada tabel tabel  6
Tabel 6 : Kandungan nutrient Rumput gajah dan bungkil kelapa
Uraian (%)
BK (kg)
PK (gr)
TDN (kg)
Ca (gr)
P (gr)
Rumput gajah
21
8,30
50
0,59
0,29
Bungkil kelapa
86
21,60
66
0,08
0,67

Langkah ke – 2 :Menghitung konsumsi BK rumput gajah membandingkan dengan kebutuhan ternak. Konsumsi dari BK rumput gajah adalah sebagai berikut : 2/100 x 350 kg = 7 kg.
Pemenuhan zat nutrient dari rumput gajah ditampilkan pada tabel 7.
Tabel 7 : Zat makanan yang dapat disediakan oleh 7 kg rumput gajah.
Uraian
BK (kg)
PK (gr)
TDN (kg)
Ca (gr)
P (gr)
Kebutuhan zat nutrient induk laktasi 3 – 4 bulan pertama setelah melahirkan BB 350 kg
8,1
7,21
4,5
24
24
Pemenuhan nutrient dari rumput gajah
7,0
482
3,5
41,3
20,3
Kekurangan
1,1
239
1,0
+ 17,3
- 3,7

Kekurangan BK sebesar 1,1 kg atau 1.100 gram harus dapat dipenuhi oleh bungkil kelapa yang harus mengandung 239 gram PK atau 239 gram/1.100 gram = 21,72 %.
Langkah 3 : Perhitungan terakhir adalah menghitung zat – zat makanan yang dapat disediakan oleh semua bahan pakan dan kita bandingkan dengan kebutuhannya, seperti pada tabel 8
Tabel 8 : Zat Makanan yang dapat disediakan oleh 7 kg rumput gajah dan 1,1 kg bungkil kelapa.


Uraian
BK (kg)
PK (gr)
TDN (kg)
Ca (gr)
P (gr)
Kebutuhan zat nutrient induk laktasi 3 – 4 bulan pertama setelah melahirkan dengan BB 350 kg
8,1
721
4,5
24
24
Pemenuhan zat nutrient dari rumput gajah
7,0
482
3,5
41,3
20,3
Pemenuhan zat nutroent dari bungkil kelapa
1,1
238
0,726
0,88
7,37
Total pemenuhan zat nutrient
8,1
720
4,23
42,2
27,7
Kekurangan
0
- 1
- 0,27
+ 18,8
+ 3,7

Zat makanan yang dapat disediakan 7 kg rumput gajah dan 1,1 kg bungkil kelapa. Kekurangan TDN sebesar 0,27 kg dapat di penuhi dari molases  atau tetes. Tetes mengandung BK 66 % dan TDN sebesar 69 %. Jadi kekurangan TDN sebesar 27 %.
Tetes 69/100 x 0,27 = 283 gram
Pada 100 gram Urea sebanding dengan 45 gram N atau = 6,25 x 45 N = 281,25 kg PK.
Jadi 1 gram PK terdapat dalam Urea sebanyak = 1/281,25 = 0,0036 gram.
Langkah 4 :Susunan ransum dalam bentuk segar adalah sebagai berikut :
Rumput gajah = (100/21) x 7 kg = 33,33 kg
Bungkil kelapa = (100/86) x 1,1 kg = 1,28 kg
Tetes = 283 gram
Urea = 0,0036 gram

MENYUSUN RANSUM  SAPI JANTAN.
Berikut ini adalah contoh ransum sapi jantan dengan bobot badan 300 kg dengan target kenaikan bobot badan sebesar 1,00 kg perhari.
Adapun bahan pakan penyusun ransum adalah : jerami padi, dedak halus kampung, gaplek dan bungkil kelapa.
Pemberian BK adalah 3 % berdasar bobot badan dengan imbangan hijauan dan konsentrat adalah 20 % berbanding 80.%.   Penggunaan bungkil kelapa dibatasi maksimal 20 % dari konsentrat.
Langkah 1 : sapi jantan dengan BB 300 kg dengan PBBH 1,00 kg/hari membutuhkan zat – zat makanan tertera pada tabel 9.
Tabel 9 : Kebutuhan nutrient sapi jantan BB 300 kg dan PBBH 1,0 kg
Uraian
BK (kg)
PK (gr)
TDN (kg)
Ca (gr)
P (gr)
Kebutuhan zat nutrient sapi jantan BB 300 kg, PBBH 1 kg
7,6
535
5,2
21
18

Langkah 2 :Menentukan jumlah konsumsi bahan kering jerami padi, konsentrat  dan bungkil kelapa yang akan diberikan pada  ternak :
Jumlah bahan kering (BK) yang dibutuhkan = 3 % x 300 kg = 9 kg
Jumlah jerami padi yang akan diberikan = 20 % x 9 kg = 1,8 kg
Jumlah konsentrat yang akan diberikan = 80 % x 9 kg = 7,2 kg
Jumlah bungkil kelapa = 20 % x 7,2 kg = 1,44 kg
Langkah 3 :Mengetahui kandungan zat nutrient jerami padi dan bungkil kelapa.
Tabel 10 : Kandungan zat nutrien bahan pakan
Uraian
BK (%)
PK (%)
TDN (%)
Ca (%)
P (%)
a. Jerami padi
80
2,40
59,0
0,21
0,08
b. Bungkil kepala
60
21,60
66,0
0,08
0,67
c. Dedak halus kampung
60
6,30
60,5
0,70
1,50
d. Gaplek
60
1,70
69,0
0,10
0,04

Langkah 4 : Menghitung zat nutrient yang disediakan oleh jerami padi dan bungkil kelapa serta membandingkan dengan kebutuhan zat nutrient sapi jantan. Kekurangan bahan kering (BK) sebesar 4,36 kg (4360 gram) dan protein kasar (PK) sebesar 180,8 gram trersebut harus dipenuhi oleh campuran dedak halus dan gaplek yang mengandung protein sebesar = (180,8 / 4360) x 100 % = 4,15 %.
Tabel  11 :Zat makanan yang dapat disediakan oleh jerami padi dan bungkil kelapa.
Uraian
BK (kg)
PK (gr)
TDN (kg)
Ca (gr)
P (gr)
Kebutuhan zat nutrient sapi jantan BB 300 kg PBBH 1 kg
7,6
535
5,2
21,0
18,0
Pemenuhan zat nutrient dari jerami padi
1,8
43,2
1,06
3,78
1,44
Pemenuhan zat nutrient dari bungkil kelapa
1,44
311
1,13
4,32
9,655
Total pemenuhan zat nutrient
3,24
354,2
2,19
8,10
11,09
Kekurangan
4,36
180,8
3,01
12,90
6,91

Langkah 5 ; Menghitung proporsi dedak halus kampung dan gaplek dengan menggunakan metode bujur sangkar pearson, sebagai berikut :
PK (%)                                  Bagian               %-se
Dedak halus        6,3                             2,45     (2,45/4,6) x 100 %      53,3 %
                                             4,15
Gaplek                1,7                             2,15     (2,15/4,6) x 100 %       46,7 %
Jumlah                4,6                             4,6
Jadi : Jumlah dedak halus = (53,3 %) x 4,36 kg =   2,32 kg
Jumlah gaplek  = (46,7 %) x 4,36 kg =  2,04 kg
Perhitungan terakhir adalah menghitung zat – zat makanan yang dapat disediakan oleh semua bahan pakan dan kita bandingkan dengan kebutuhannya seperti tabel 12.
Tabel 12 ; Perbandingan kebutuhan zat nutrient dengan yang tersedia oleh bahan pakan;
Uraian
BK (kg)
TDN (kg)
PK (gr)
Ca
P
Jerami padi
1,80
1,06
40,00
3,78
1,44
Dedak halus kampung
2,32
1,40
200,00
20,00
50,00
Bungkil kelapa
1,44
0,95
310,00
4,32
9,65
Gaplek
2,04
1,48
20,00
1,22
0,49
Jumlah
7,60
4,89
570,00
29,32
61,58
kebutuhan
7,60
5,20
535,00
21,00
18,00
Selisih
0,00
- 0,31
+ 35
+ 8,32
+43,58

Jadi ransum masih kekurangan energi (TDN) sebesar 0,31 kg. Untuk menyeimbangkan dapat digunakan molases atau tetes. Tetes mengandung BK 86 % dari TDN 69 %. Jadi kekurangan TDN sebesar 0,31 kg atau (310 gram) diperoleh dari tetes sebanyak ( 310/69) x 100 gram = 449 gram. Perbandingan Ca banding P yang ideal adalah 1 banding 1. untuk mencapai perbandingan tersebut maka di dalam ransum harus ditambahkan
CaCO3. sumber Ca CO3 yang mudah didapat adalah dolomite atau kapur yang mengandung Ca sebesar 36 %.
Untuk mencapai kesimbangan tersebut, maka di  dalam ransum harus ditambahkan kapur sebanyak : (61,58 – 29,32)/ 0,36 =  89,90 gram.
Langkah 6 : Menghitung susunan ransum dalam bentuk segar adalah sebagai berikut :
Jerami padi = (100/80) x 1,8 kg = 2,30 kg
Dedak halus kampung = (100/60) x 2,32 kg = 3,80   kg
Bungkil kelapa = (100/60) x 1,44 kg =  2,44 kg
Gaplek = (100/60) x 2,04 kg = 3,40 kg
Tetes = (100/86) x 469 kg = 545,3 gram
Pakan seimbang bukan merupakan hal yang sulit untuk diwujudkan karena kita hanya dituntut untuk cerdik mengkombinasikan bahan pakan yang ada disekitar kita.
Tidak ada formulasi bahan yang baku. Dengan mengkombinasikan bahan pakan yang tersedia serta penggunaan suplemen dari bahan pakan lokal diharapkan akan tercipta ransum yang murah tetapi mampu memberikan hasil yang optimal.
o   STRATEGI PEMBERIAN PAKAN PADA SAPI POTONG
Sapi yang akan digemukan harus diatur pemberian pakan hijauan dan konsentrat setiap harinya agar tercapai hasil yang memuaskan. Pemberian konsentrat dan pakan hijauan diatur dalam suatu teknik yang memberikan tingkat kecernaan ransum yang lebih tinggi, sebab apabila pemberian hijauan yang bersamaan waktunya dengan pemberian konsentrat akan berakibat pada penurunan kecernaan bahan kering (BK) dan bahan organik lainnya.
Teknik pemberian ransum yang baik untuk mencapai pertambahan bobot badan yang lebih tinggi pada penggemukan sapi potong adalah dengan mengatur jarak waktu antara pemberian hijauan dan konsentrat. Ransum hendaknya tidak diberikan sekaligus dalam jumlah banyak setiap harinya, melainkan dibagi menjadi beberapa bagian.
Pada pagi hari, misalnya pukul 07.00, setiap harinya sebaiknya diberi sedikit hijauan untuk merangsang keluarnya saliva (air liur). Saliva ini berfungsi sebagai larutan buffer (penyangga) di dalam rumen sehingga pH rumen tidak mudah naik maupun turun pada saat sapi diberikan pakan konsentrat. Pemberian pakan konsentrat dengan kandungan karbohidrat tinggi akan mudah terfermentasi sehingga menghasilkan asam lemak mudah terbang yang berpotensi menurunkan pH rumen. Sementara pemberian konsentrat yang banyak mengandung protein terdegradasi akan menghasilkan NH3 yang berpotensi meningkatkan pH rumen. Kondisi peningkatan dan penurunan pH rumen secara ekstrim akan berbahaya bagi kesehatan ternaknya.
Setelah mengkonsumsi sedikit rumput, sapi tersebut diberi setengah jatah konsentrat. Misalnya, apabila jatah konsentrat yang harus diberikan 6 kg, maka pada pagi hari diberikan konsentrat sebanyak 3 kg. Dua jam kemudian, hijauan diberikan lagi. Pada sore hari sekitar pukul 15.00, konsentrat bagian kedua diberikan selanjutnya pada pukul 17.00 hijauan diberikan lagi.
Ternak yang tidak biasa mengkonsumsi konsentrat., seringkali tidak mau memakannya. Oleh karena itu harus dilatih terlebih dahulu. Biasanya setelah satu minggu ternak akan terbiasa untuk makan konsentrat. Apabila  ternak mendapat konsentrat yang kering, maka hendaknya diberikan atau di sediakan air minum secara ad libitum (sebanyak – banyaknya) di dalam kandang..

o   LATIHAN
Untuk membantu pemahaman peserta, maka dipersilahkan mengerjakan materi latihan sebagai berikut :
 Dalam penyusunan formula ransum ternak yang seimbang diperlukan informasi dan pertimbangan yang kompleks. Sebutkan informasi yang harus dibutuhkan untuk menyusun ransum sapi seimbang tersebut.
 Sebutjkan langkah – langkah atau tahapan dalam penyusunan ransum seimbang tersebut.
 Susunlah formula ransum sapi jantan bobot badan 250 kg, dengan perkiraan pertambahan bobot badan harian 0,75 kg, dengan pakan yang tersedia dan diberikan pada sapi tersebut dengan ketentuan sebagai berikut:
Rumput lapangan dengan Bahan Kering (BK) 21,8 %, Protein Kasar (PK) 6,7 %, Energi (TDN) 56,2 % dari bahan kering.
Rumput Raja, mengandung BK 22,40 %, PK 13,5 %, TDN 57,0 % dari bahan kering
Dedak padi halus, mengandung BK 87,5 %, PK 13,8 %, TDN 50 % dari bahan kering..
Mineral diberikan garam dapur dan kapur (CaC03), dan diberikan masing – masing 100 gram dalam ransum
Kemampuan mengkonsumsi bahan kering dengan bobot badan 250 kg adalah 3,5 % dari bobot badan.
Hijauan rumput lapangan dan rumput raja termasuk hijauan yang berkualitas sedang, sehingga komponennya dalam ransum dapat diberikan sebanyak 60 %.
Susunlah formula ransum sapi penggemukan bobot badan awal 250 kg dengan perkiraan kenaikan bobot badan harian 1,0 kg.
Bahan yang tersedia adalah sebagai berikut .
Dedak padi halus mengandung bahan kering (BK) 87,5 %, protein kasar (PK) 13,8 %, dan Energi/TDN 50 % dari bahan kering.
Onggok dengan kandungan BK 88,7 %, PK 1,2 % dan TDN 85 % dari bahan kering
Rumput lapangan dengan BK 21,8 %, PK 6,7 % dan energi 49 %. dari bahan kering.
Garam dapur, tepung tulang dan kapur masing – masing 100 gram, 50 gram dan 50 gram perhari.

SELAMAT BEKERJA



        













REFERENSI

1.    Sad Hutomo Pribadi, Ransum Seimbang sapi Potong, Sinar Tani Edisi 19 – 25 Mei 2010 th XL, Jakarta, 2010
2.    BPTB NTB, Strategi Pakan pada Sapi Potong, Juknis Ransum Seimbang, BPTP NTB, Mataram. 2008
3.    Balai Besar Pelatihan Peternakan Kupang, “Menyusun Ransum sapi Penggemukan” Bahan Ajar, Diklat Agribisnis Peternakan Sapi Potong,  2010.
4.    Dinas Peternakan NTB,  Simulasi pemberian pakan sapi, Juknis Penggemukan Sapi Bali, Mataram, 2007
5.    Direktorat Jenderal Peternakan,  Pakan Seimbang pada Sapi Perah, Departemen Pertanian RI, Jakarta, 2008

1 komentar:

  1. Mat pagi pak,


    di tempat kami banyak ditemukan : Kulit Kopi, kulit Coklat dan Batang jagung Kering.

    Apakah bahan diatas bisa dibuatkan Pakan ternak Sapi ? Penggemukan.

    Bagaimana tehnologinya ? T. kasih.

    BalasHapus